Puluhan dosen, pegawai, dan mahasiswa Unwahas siang itu tampak antusias mengikuti pengajian ba’da dzuhur. Para jamaah dengan seksama menulis makna dan memberikan harakat pada “kitab gundul” berbahasa arab. “Ini adalah kitab kuning karangan KH. Hasyim Asy’ari,” ucap Dr. H. Sayfuddin Dosen Pascasarjana Unwahas lulusan Universitas Al Azhar Kairo mengawali kajiannya.
Kitab Al-Nuurul Mubiin fi Mahabbati Sayyid al-Mursaliin (Cahaya yang Terang tentang Kecintaan pada Utusan Tuhan, Muhammad SAW) adalah salah satu dari sekian banyak karya-karyanya yang dikaji di Unwahas. Kitab ini menjelaskan tentang rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW serta sifat-sifat terpuji yang bisa menjadi suri tauladan bagi umat Islam. Kitab ini juga berisi tentang kewajiban taat dan menghormati kepada perintah Allah SWT yang telah disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW baik melalui al-Quran atau hadits.
Menurut Ketua Takmir Masjid Nurul Ulum Unwahas H. Andi Purwono, S.IP, M.Si kegiatan ini adalah salah satu rangkain kegiatan Pekan Ramadhan Kampus (Perak) yang rutin dilakukan setiap tahun. Kalau sebelum Ramadhan biasanya hanya tadarus saja, mulai Ramadhan tahun ini Unwahas menyelenggarakan kajian kitab karya Kyai Haji Hasyim Asy’ari. Kegiatan yang lain adalah shalat tarawih, tadarus Quran, les privat baca tulis Quran serta pengajian ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja). “Disamping untuk memperkuat akidah dan itiqad Aswaja bagi civitas academika, kajian kitab ini juga sebagai langkah untuk meneruskan ajaran-ajaran para pendahulu kami,” tutur Andi Purwono. “Siapa lagi yang akan meneruskan ajaran Hadratus Syeikh kalau bukan kita,” sambungnya.
KH. Hasyim Asy’ari adalah ayah dari KH. Abdul Wahid Hasyim yang namanya diabadikan menjadi nama Universitas Wahid Hasyim. Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari adalah seorang Pahlawan Nasional pendiri jamiyyah Nahdlatul Ulama pada tahun 1926, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Unwahas lahir tahun 2000 di saat Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjabat sebagai Presiden RI ke 4. Gus Dur adalah salah satu putra dari KH. Abdul Wahid Hasyim.